Selasa, 23 Maret 2010

Potensi konten lokal Indonesia


Indonesia Memiliki bebagai potensi yang dimiliki, baik potensi alam, pariwisata, kebudayaan , pendidikan maupun kesenian yang begitu banyak kita miliki. Dengan bantuan media Internet, kita dapat melakukan sosialisasi, menawarkan semua potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.Namun hambatan hambatan yang muncul adalah penggunaan internet di Indonesia masih sangat minim, masih sekitar sekitar 10 persen dari total populasi penduduk Indonesia (www.internetworldstats.com). Hal ini disebabkan tarif internet di Indonesia masih terbilang mahal bila dibandingkan di AS ataupun di Eropa. Hambatan lain yang kita hadapi saat ini, terutama dalam internet , bahasa maupun konten yang di dalamnya rata rata dikuasai oleh orang yang berasal dari luar Indonesia.

Industri Konten Lokal dapat bergerak dalam bidang Software, Karya Seni, Lagu, Design Batik, Animasi, dll. Banyak anak-anak muda Indonesia yang kreatif dan innovatif menghasilkan produk-produk Animasi yang sangat bagus, contohnya film animasi 3D pertama yang ditayangkan di layar lebar, Film tersebut berjudul “Meraih Mimpi” yang diproduksi Infinite Frameworks (IFW), studio animasi yang berpusat di Batam. Dari 150 animator hampir semuanya orang Indonesia dan hanya 5 orang asing. Akan tetapi banyak Penyelenggara Siaran TV Indonesia malah beli produk-produk asing yang jauh lebih mahal. Hal ini menandakan bahwa Penyelenggara Siaran TV Indonesia lemah dalam melihat potensi sebuah produk(ide) dan inovasi.

Contoh lain adalah Multimedia Content dan Edutainment. Dalam hal ini Indonesia masih bisa sedikit membusungkan dada. Mobile content (games, online publisher) kita sudah mulai populer dan mudah dijumpai, multimedia pendidikan(software) juga semakin hebat. Produk buatan IlmuKomputer.Com (Brainmatics) sudah masuk ke bank-bank asing, perusahaan asing, perusahaan penerbangan, perusahaan perkebunan, universitas, sma/smk dan juga TV edukasi.

Banyak peluang-peluang emas yang dapat dikembangkan Indonesia dalam industry Software. Menurut IDC Professional Developer Model (2004), Jumlah software house di Indonesia mencapai 250 dan akan meningkat 2 kali dalam 5 tahun ke depan. Jumlah pengembang profesional mencapai 56.500 orang dan akan meningkat sampai 71.600 orang di tahun 2010.

Kalau konten-konten local itu sudah mendunia dan berpengaruh, saya yakin daya saing bangsa Indonesia akan semakin tinggi, tidak menutup kemungkinan mata dunia akan berbalik berguru kepada kita tentang isi dan hakekat yang kita miliki. Oleh karena itu perlu kesadaran dan kemauan keras dari generasi penerus bangsa ini dalam mengembangkan local content. (by Yoki)

Selasa, 16 Maret 2010

Anak – Anak dan TV Sebagai Media Pendidikan

Apa yang terlintas di benak kita pada saat mendengar kata “pendidikan”, identik dengan sekolahan bukan? Menurut bahasa Yunani : pendidikan berasal dari kata “Pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” sedangkan “agogos” yang artinya membimbing “sehingga “ pedagogi” dapat di artikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak”. Kata “media” berasal dari bahasa latin Medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Pengertian media dalam proses pemebelajaran cenderung diartikan sebagai “alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”. Arti media pengajaran menurut Marshall Mcluhan, Media adalah suatu ekstensi manusia yang memungkinkannya mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia. Jadi secara ringkas media pedidikan adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang lain (yang akan dibahas adalah anak-anak) melalui alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Pendidikan tidak terbatas dengan pendidikan di sekolah (formal), akan tetapi mencangkup seluruh informasi yang diserap ke dalam memori kita dari sejak lahir, sehingga dapat mempengaruhi sikap, pikiran/persepsi dan kemampuan kita. Belakangan ini, televisi banyak digunakan sebagai media edukasi. Namun muncul pertanyaan, apakah cara tersebut efektif? Seberapa besar kehadiran TV dalam kehidupan anak-anak? Tentu saja tidak, ada satupun di dunia ini yang berjalan 100% sesuai dengan harapan kita, banyak penyimpangan penyimpangan yang terjadi. Menurut Nielsen Media Research Tidak semua anak usia 2-17 menonton yang sesuai dengan usia program, banyak yang mempersepsikan bahwa acara film kartun ditujukan untuk anak-anak. Banyak film kartun remaja/dewasa ditonton dan bahkan disukai oleh anak-anak diantaranya Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, New Scooby Doo Movie(TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang ( Global TV) ; sumber data : Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) . Tayangan-tayangan tersebut dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar yang tidak mencolok.

Anak-anak dengan TV di kamar tidur mereka menghabiskan rata-rata hampir 1,5 jam lebih per hari nonton TV daripada anak-anak tanpa TV di kamar tidur. Ratna Megawangi, Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation mengatakan bahwa Orang tua memegang peranan penting dalam meminimalisir dampak negative dari tayangan-tayangan televisi, dan yang paling penting orang tua juga jangan melakukan tindakan kekerasan pada anak-anak. Disini peran orang tua sebagai “filter” yang mengajari anaknya mana yang baik, mana yang buruk, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Selasa, 09 Maret 2010

Kesanggupan Indonesia Menghadapi Masa Depan Yang Modern dan Berbasis Teknologi Yang Mudah Diakses



Tidak ada seorangpun yang dapat melihat masa depan secara pasti. Yang dapat dilakukan hanya dapat memprediksi trend yang akan terjadi. Misalkan pola perilaku mencari berita, dahulu orang-orang lebih senang mengisi waktu luangnya dengan membaca Koran, kemudian bergerak dengan mendengarkan radio, kemudian saat ini orang orang lebih senang menonton TV. Akan tetapi, dengan munculnya teknologi gadget seperti BlackBerry, iPhone, dsb yang memiliki kecepatan akses dan kemampuan mobilitas yg tinggi, maka pola orang-oang dalam mengakses informasi berubah, dari berupa fisik atau analog kearah digital. Dari pengalaman kita dapat menemukan fakta bahwa, akhirnya kita lebih banyak mengetik daripada menulis tangan.

Perkembangan komunikasi yang menuntut adanya efisiensi waktu ini, kemudian mendorong para ahli untuk menemukan teknologi-teknologi perantara baru yang dapat memfasilitasi keinginan-keinginan tersebut. Kabel menjadi salah satu benda yang disorot. Pengembangan tembaga menjadi serat optik menjadi salah satu temuan mutakhir yang meningkatkan efisiensi waktu dalam sistem komunikasi. Dengan serat optik, narasumber dapat mengirimkan informasi dengan kapasitas yang besar baik itu besaran data maupun kecepatan. Kunci utama dari komunikasi era digital adalah ketersediaan infrastruktur jaringan internet. Oleh karena itu para pemimpin kita menyadari pentingnya komunikasi dengan membuat mega proyek Palapa Ring.

Palapa Ring adalah suatu proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer (id.wikipedia.org). Nama palapa diambil dari sumpah Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit yaitu Sumpah Palapa yang isinya “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Pulau Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa."

Infrastruktur di Indonesia sudah cukup baik, namun dibandingkan dengan perkembangan dunia infratruktur di Indonesia masih belum terbangun dengan baik, tersusun, teratur, rapih dan terjaga. Indonesia masih dirasa kekurangan modal untuk membangun berbagai infrastruktur yang baik, up to date dan aman. Alasan ini dirasa cukup kental mempengaruhi berbagai pembangunan infrastruktur Indonesia yang masih sering terbangun hanya setengah-setengah, atau dengan kata lain ada yang kurang entah dari segi keselamatan, standar operasi, dan lain-lain.

Pemerintah percaya bahwa Palapa Ring akan membantu negara mengatasi masalah akses telekomunikasi, terutama di daerah Timur. Hal ini juga berharap bahwa jaringan akan mengakibatkan pengurangan di negara harga bandwidth yang tinggi. Setelah jaringan selesai, akses akan ditawarkan kepada operator telekomunikasi, termasuk penyedia layanan internet.(by Yoki)