Apa yang terlintas di benak kita pada saat mendengar kata “pendidikan”, identik dengan sekolahan bukan? Menurut bahasa Yunani : pendidikan berasal dari kata “Pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” sedangkan “agogos” yang artinya membimbing “sehingga “ pedagogi” dapat di artikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak”. Kata “media” berasal dari bahasa latin Medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Pengertian media dalam proses pemebelajaran cenderung diartikan sebagai “alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”. Arti media pengajaran menurut Marshall Mcluhan, Media adalah suatu ekstensi manusia yang memungkinkannya mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia. Jadi secara ringkas media pedidikan adalah ilmu dan seni mempengaruhi orang lain (yang akan dibahas adalah anak-anak) melalui alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.Pendidikan tidak terbatas dengan pendidikan di sekolah (formal), akan tetapi mencangkup seluruh informasi yang diserap ke dalam memori kita dari sejak lahir, sehingga dapat mempengaruhi sikap, pikiran/persepsi dan kemampuan kita. Belakangan ini, televisi banyak digunakan sebagai media edukasi. Namun muncul pertanyaan, apakah cara tersebut efektif? Seberapa besar kehadiran TV dalam kehidupan anak-anak? Tentu saja tidak, ada satupun di dunia ini yang berjalan 100% sesuai dengan harapan kita, banyak penyimpangan penyimpangan yang terjadi. Menurut Nielsen Media Research Tidak semua anak usia 2-17 menonton yang sesuai dengan usia program, banyak yang mempersepsikan bahwa acara film kartun ditujukan untuk anak-anak. Banyak film kartun remaja/dewasa ditonton dan bahkan disukai oleh anak-anak diantaranya Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, New Scooby Doo Movie(TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar: The Legend of Aang ( Global TV) ; sumber data : Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) . Tayangan-tayangan tersebut dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks, dan bahasa kasar yang tidak mencolok.
Anak-anak dengan TV di kamar tidur mereka menghabiskan rata-rata hampir 1,5 jam lebih per hari nonton TV daripada anak-anak tanpa TV di kamar tidur. Ratna Megawangi, Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation mengatakan bahwa Orang tua memegang peranan penting dalam meminimalisir dampak negative dari tayangan-tayangan televisi, dan yang paling penting orang tua juga jangan melakukan tindakan kekerasan pada anak-anak. Disini peran orang tua sebagai “filter” yang mengajari anaknya mana yang baik, mana yang buruk, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.


0 komentar:
Posting Komentar